Surat Kaleng Hingga Fatwa Mati buat Bung Karno

soekarno-fatmawatiPenggalan kisah mengenai kehidupan Bung Karno memang selalu menarik untuk dikaji. Banyak sekali ide dan gagasan pemikirannya yang futuristik, jauh melampau zaman dan hingga kini masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan bangsa dan negara.
Gagasan pemikiran Bung Karno amat luas, bukan hanya membahas dinamika kehidupan bangsa dan negara saja. Namun Bung Karno juga menyelami dalamnya rimba sisi kemanusiaan dan ajaran agama, khususnya agama Islam.
Tidak jarang lompatan idenya mengenai gagasan pembaruan Islam kerap dinilai kontroversial. Sebab terobosan idenya melawan arus mainstream dan sulit dicerna oleh kaum awam di masa itu. Ada pihak yang mengagumi terobosan ide Bung Karno dalam bidang kemajuan agama Islam, sebut saja dalam bidang Bloedtransfusie dan wacana nasionalisme. Kedua tema ini pernah menjadi polemik sengit di tanah air dalam kurun waktu 1920-an hingga 1940-an.
Ada pihak yang mendukung gagasan Islam progresif Bung Karno dan ada pihak yang tidak sepakat dengan terobosan ide Bung Karno. Disinilah terjadi pergumulan ide-ide besar. Ide besar yang disampaikan Bung Karno memang amat visioner dan tidak mudah dicerna kaum awam, sehingga banyak sekali reaksi yang timbul. Mulai dari kritikan, pengiriman surat kaleng hingga fatwa mati yang ditujukan kepada Bung Karno.
Penasaran dengan kisah Bung Karno. Yuk simak ulasannya di Sukarnopedia. 
Dalam bidang urusan agama Islam Bung Karno amat memegang teguh sabda (hadits) nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan untuk membangun sebuah bangsa dan negara. Tentu saja ilmu pengetahuan tersebut diperoleh dari akal dan penalaran kritis serta melepaskan diri dari belenggu taklid buta. Bung Karno juga begitu yakin kejayaan peradaban Islam di masa lampau karena para pengikutnya memegang teguh dan menyelami sedalam-dalamnya akan ilmu pengetahuan.
Banyak sekali ide dan gagasannya yang sejalan dengan prinsip kemajuan. Sebut saja soal Tabir (kain pemisah yang dipasang diantara laki-laki dan perempuan dalam pertemuan akbar), kemudian soal donor darah (bloedtransfusie), paduan gagasan nasionalisme dan agama Islam hingga kritik tajam Bung Karno kepada para ulama Islam yang hanya berpedoman kepada kitab Fiqih semata dalam menjawab dinamika tantangan zaman.
Sebut saja perkara donor darah (bloedtransfusie). Pada tahun 1940-an persoalan donor darah menjadi topik hangat yang banyak sekali dibahas oleh ulama dan organisasi Islam yang ketika itu melebur dalam wadah Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI). Dalam sebuah kongresnya di Surakarta, MIAI berfatwa bahwa donor darah haram hukumnya terlebih jika orang muslim di nusantara mendermakan darahnya kepada penjajah Belanda yang terluka karena menghadapi perang dunia kedua.
Bagi Bung Karno, persoalan donor darah adalah murni urusan kemanusiaan semata dan Bung Karno tidak sepakat dengan fatwa haramnya donor darah itu. Tentu saja pemikiran Bung Karno ketika itu melawan main stream para ulama. Karena kritik yang keras dan tajam kepada kalangan alim-ulama, Bung Karno harus menerima surat kaleng.
Pertengahan bulan Juli tahun 1941, Bung Karno menerima dua pucuk surat terkait urusan donor darah (bloedtransfusie). Satu surat berasal dari aktivis pergerakan Asmara Hadi yang isinya adalah ucapan terima kasih atas penjelasan Bung Karno mengenai donor darah yang ditulis di Harian Pemandangan. Kemudian sepucuk surat lainnya adalah surat kaleng yang nama  yang  menyebut dirinya dengan sebutan “Islam sejati bin Tetap Qur’an wal Hadits”.
Surat kaleng itu berisi kecaman dari orang tidak dikenal yang isinya adalah menyayangkan kritik Bung Karno kepada kalangan alim-ulama yang tergabung dalam wadah MIAI.
“Sangat saya sesalkan bahwa pemandangan saudara itu besar kecilnya menyerang mengkritik kepada ulama MIAI, yang saya berkeyakinan tentang ilmu Islamnya lebih tinggi dari saudara. Maka saya minta dengan hormat tapi sangat kepada saudara terlebih baik menulis pemandangan yang lebih berfaedah daripada menulis yang demikian. Dan disamping itu perlu sangat sangat saudara memperdalam ilmu-ilmu agama Islam  supaya pemandangan saudara itu tidak berupa gado-gado yang rasanya basi,” begitulah isi surat kaleng yang dikisahkan Bung Karno dalam artikelnya berjudul “Sekali Lagi” Bloedtransfusie” yang juga dimuat dalam Harian Pemandangan.
Meski menerima kritik tajam, Bung Karno sama sekali tidak marah. Lewat tulisannya di berbagai media massa Bung Karno mengajak kepada bangsa Indonesia agar berfikir kritis, menggunakan logika dan akal semaksimal mungkin. Dengan cara inilah Bung Karno yakin kejumudan (stagnasi) pemikiran bisa dicairkan.
Gagasan pemikiran lainnya yang juga menyulut perdebatan sengit di kalangan internal umat Islam adalah soal nasionalisme yang dipadukan dengan ajaran agama Islam. Gagasan nasionalisme yang gencar didengungkan Bung Karno sejak tahun 1920-an rupanya begitu memekakan telinga dan membuat geram banyak pihak. Bukan hanya kalangan penjajah Belanda saja yang merasa geram, namun sebagian kaum tua yang kolot dari berbagai organisasi Islam juga kesal dengan gagasan nasionalisme yang tengah dikampanyekan Bung Karno.
Sikap geram itu tentu saja bukan tanpa asalan, sebab dinamika yang terjadi pada tahun-tahun itu nasionalisme dianggap sebagai dosa karena masuk paham ashabiyah (fanatisme golongan) yang dianggap saling menegasikan dengan prinsip dan ajaran Islam yang tidak mengenal sekat teritorial atau etnis tertentu.
“Dulu di tahun 1928-1929 di Pekalongan pernah dihalalkan saya punya darah oleh seorang Muhammadiyah. Karena saya dikatakan sebagai penganjur Ashabiyah,” kata Bung Karno seperti dikutip dari tulisannya berjudul “Me-mudakan Pengertian Islam” yang dimuat di Majalah Panji Islam di tahun 1940.
Sejarah perjalanan nasionalisme di Eropa dan negara-negara Asia dan Afrika tentu saja berbeda. Di Benua Eropa gagasan nasionalisme muncul dan bertujuan untuk mendirikan negara baru dan melepaskan diri dari kekaisaran-kekaisaran yang ada. Sebaliknya di negara-negara Asia dan Afrika gagasan nasionalisme digunakan sebagai landasan untuk mengenyahkan kolonialisme Barat.
Namun demikian wacana nasionalisme nasionalisme yang diusung Bung Karno berhasil menjadi wacana publik ketika para pemimpin ormas keagamaan semisal Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sepakat dengan gagasan tersebut. GagasanHubbul Wathan Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah Sebagian Dari Iman) segera menjelma  menjadi doktrin dan wacana baru di kalangan umat Islam.
Gerakan cinta kepada tanah air semakin menguat ketika Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah yang juga seorang ulama Indonesia paling terkemuka Kiai Haji Mas Mansyur menulis artikel berjudul “Memperkatakan Gerakan Pemuda” di dalam Majalah Adil edisi No.8 bhg.
Dalam artikel itu, jelas-jelas KH Mas Mansyur menyerukan kepada kaum muda agar mencintai tanah air sama sebagaimana mereka mencintai ajaran agama dan Nabi Muhammad. Artikel yang ditulis pucuk pimpinan Muhammadiyah itu merupakan sekaligus jawaban bahwa rasa cinta kepada tanah air bukanlah bagian dari fanatisme buta (ashabiyah) yang selama ini diyakini umat Islam ketika itu.
“Sebab di dalam tulisan itu KH. Mas Mansyur secara terang-terangan memanggil kaum pemuda kepada rasa cinta tanah air. Dan bagi kaum Muhammadiyah tua hal ini membuat mereka menjadi cingak-cinguk sebab mereka hidup di bawah didikan tua, bahwa cinta tanah air adalah sebagian dosa ashabiyah,” begitulah tanggapan Bung Karno atas artikel yang ditulis KH. Mas Mansyur. (Bhd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *